SEKILAS INFO >
Selamat Datang di Website Kantor Hukum Ismet Anizar Azis SH & Rekan - Kami Memberikan Jasa Pelayanan Bantuan Hukum - Silahkan Hubungi Kami Untuk Konsultasi dan Pelayanan - Rekening Donasi BRI No.Rek 001901042375505 Mandiri No.Rek 1220007854519 a/n Ismet Anizar Azis
Minggu, 28-02-2021

Pengacara: Mendengar Musik Sambil Mengemudi Bukan Pelanggaran

Minggu, 28 Februari 2021

 Pernyataan Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto yang mengatakan mendengarkan musik sambil mengemudi merupakan bentuk pelanggaran mendapat reaksi keras dari pengacara David Tobing.

David, yang juga Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menuntut Kepolisian Republik Indonesia untuk mengklarifikasi pernyataan anggotanya tersebut. “Saya merasa keberatan atas pernyataan itu,” kata David.

Sebelumnya Budiyanto, menurut David, seperti dikutip Kompas. Com, menyatakan, antara lain, “Merokok, mendengarkan radio atau musik atau televisi (untuk pengguna roda empat) melanggar UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1 junto Pasal 283 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Menurut survei yang kami lakukan, merokok, mendengarkan musik, dan kegiatan lain yang termasuk dalam tindakan yang tidak wajar dalam berkendara dapat menurunkan konsentrasi dalam berkendara dan memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.”

Menurut David, UU No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU Lalu Lintas) dengan jelas menyatakan, dalam Pasal 106 ayat (1), “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”

 

Ada pun Penjelasan Pasal 106 ayat (1) menyatakan, “Yang dimaksud dengan “penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan.”

Atas dasar itu, kata David, dengan mengacu Pasal 106 ayat (1) maupun penjelasannya, mendengarkan musik tidak termasuk dalam kategori perbuatan yang dilarang dalam UU lalu lintas karena tidak ada satupun kata/frasa dalam pasal tersebut yang secara tegas melarang seseorang untuk mendengarkan musik ketika berkendaraan.

Menurut David, dalam pasal tersebut yang jelas jelas dilarang adalah menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan.

David  menyayangkan pernyataan  Kasubdit Gakkum itu yang mendasari larangan mendengarkan musik hanya berdasar survei. “Survei seperti itu tidak bisa dijadikan untuk mengambil kesimpulan sementara tidak dijelaskan bagaimana bentuk surveinya,” katanya. Menurut dia, jika akan dibuat sebuah larangan, semestinya itu dikeluarkan melalui proses pembuatan aturan yang berlaku. Selama ini, kata David, juga tidak ada penelitian ilmiah yang menjustifikasi   mendengarkan musik secara normal mengakibatkan pengemudi kehilangan konsentrasi.

Sebagai catatan, tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk tertinggi di Asean. Setiap tahun jumlah korban akibat kecelakaan lalu lintas sekitar 30 ribu jiwa. . “Masalah lalu-lintas yang paling tinggi adalah kecelakaan di jalan,” kata Tito, saat membuka Forum Polantas ASEAN 2017, “Kerja Sama Global untuk Menciptakan Keselamatan Berlalu Lintas di Negara-negara ASEAN,” di Jakarta, Rabu, 15 November 2017 lalu.  Enam negara yang paling tinggi angka kecelakaan lalu-lintasnya adalah Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Laos.

Untuk mengurangi angka kecelakaan itu Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bulan ini akan  menggelar operasi kepolisian terpusat dengan sandi “Keselamatan Jaya 2018” selama 21 hari, mulai 5 sampai 25 Maret 2018.

LRB

Sumber : https://hukum.tempo.co/read/1065853/pengacara-mendengar-musik-sambil-mengemudi-bukan-pelanggaran/full&view=ok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Kami

Kantor Hukum Ismet Anizar Azis, SH. & Rekan adalah Firma Hukum yang didirikan pada 14 April tahun 2011 untuk menjawab kebutuhan akan jasa professional hukum serta semaksimalkan pemberian standar professional hukum yang tinggi.

Kami memiliki pengalaman dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan hukum yang terjadi, baik melalui penyelesaian secara litigasi di Lembaga Peradilan maupun non-litigasi. Pemahaman ilmu hukum yang baik, kecerdasan intelektual serta pengalaman yang memadai dari seluruh anggota tim menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi klien dalam mempercayakan penyelesaian permasalahan hukum yang dihadapi. Kepercayaan dari klien dibangun melalui penerapan standar-standar etika profesi dalam memberikan jasa professional hukum.

Seluruh anggota tim yang menangani penyelesaian permasalahan hukum merupakan lulusan fakultas hukum dari Universitas – universitas terkemuka di Indonesia. Paduan dari kemampuan teknis, kreatifitas, kecerdasan dan inovasi serta kekuatan kerjasama tim, mendorong dan mengharuskan untuk selalu memelihara pelayanan terbaik kepada klien.

Berita Terbaru
8 May 2020
LIST BUKU MARET 2020 BARU PROSPEK BISNIS DAN PROFIL RUMAH…
6 May 2020
Bantuan hukum adalah jaminan perlindungan hukum dan jaminan persamaan di depan hukum, yang…
30 April 2020
Yogyakarta – Benua Eropa masih menjadi tempat populer bagi para…
Pengunjung